Arti Gaharu

Gaharu sebenarnya bukan nama tanaman, tetapi nama hasil dari tanaman tersebut, konon berasal dari bahasa Melayu yang berarti harum. Gaharu sebagai sumber bahan baku wangi-wangian, saat ini belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Selama ini gaharu hanya tumbuh di hutan. Mengingat manfaatnya yang besar, gaharu di masa mendatang akan menjadi tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas. Gaharu memiliki kadar dammar wangi yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati sebagai akibat dari infeksi jamur yang terjadi secara alami maupun buatan.
Gaharu dibudidayakan untuk diambil minyaknya. Minyak gaharu sering juga disebut mur, dalam bahasa Inggris disebut myrrh. Di Indonesia, gaharu dikenal  sejak zaman Sriwijaya, kemudian banyak diproduksi di Malaka kurang lebih pada 1564.
Sampai saat ini gaharu hanya diusahakan secara tradisional dengan mengandalkan keberadaan pohon di hutan-hutan secara alam tanpa adanya budi daya (pertanian ekstraktif). Teknologi budi daya gaharu masih belum berkembang karena hasil-hasil penelitian terapannya masih sangat terbatas, meliputi teknik pembibitan, penanaman, pemupukan, pemangkasan, penaungan, pengendalian hama dan penyakit, pemungutan hasil, dan pascapanen.
Kabar bahwa gaharu sangat mahal harganya menjadikan tanaman ini sangat diminati oleh masyarakat untuk dibudidayakan. Namun, dalam kenyataannya ditemui banyak kendala dalam budi daya gaharu yang antara lain disebabkan oleh:
a.    Belum diketahui dimana bibit didapatkan;
b.    Masih langkanya informasi tentang tanaman gaharu;
c.    Belum ada kemampuan/pengetahuan dari petani dalam budi daya gaharu.

    Baru pada tahun 1993 gaharu mulai dibudidayakan. Data volume ekspor gaharu Indonesia adalah sebagai berikut.
a.    Antara kurun waktu 1918-1925, Indonesia mengekspor gaharu ke Cina kurang lebih 11 ton per tahun.
b.    Periode 1983-1987, ekspor mencapai 103 ton per tahun dengan nilai US$ 2.2000.000,00.
c.    Pada 1990-1998, ekspor mencapai 165 ton per tahun dengan nilai US$  2.000.000,00.
d.    Pada periode 1999-2000, ekspor meningkat menjadi 456 ton, bernilai US$ 2.2000.000,00.
e.    Sejak tahun 2000, ekspor mengalami penurunan hingga hanya 30 ton dengan nilai US$  600.000, karena kesulitan mendapatkan bahan baku.

Gaharu yang diekspor terutama berasal dari jenis Aquilaria malaccensis dan Aquilaria filaria yang berkualitas cukup baik. Tujuan ekspor terbesar adalah Negara-negara Timur Tengah dengan Singapura sebagai transit sebelum ke Negara tujuan akhir.
   
 Harga jual bervariasi menurut kelasnya, yaitu super (AA), AB, BC, C1, dan C2. Tingginya harga jual gaharu karena kegunaannya, antara lain untuk:
a.    Bahan baku industri parfum dan kosmetik;
b.    Bahan keperluan ritual agama;
c.    Bahan baku obat, antara lain untuk antiasma, stimulant saraf, antimikroba, obat sakit perut, perangsang seks, penghilang rasa sakit, dan penghilang stress.

Pemanfaatan gaharu sebagian besar masih dalam bentuk bahan baku, yaitu berbentuk kayu bulatan, cacahan, bubuk, maupun fosil kayu yang telah terkubur. Setiap bentuk produk mempunyai kekhasan sifat, warna, dan kandungan resin yang mengeluarkan aroma khas kesukaan masyarakat, seperti pada masyarakat Timur Tengah, Cina, Korea, dan Jepang.

Related Product :

 
Support : Digital Areas | MegaCara
Copyright © 2011. Central Kerajinan Gaharu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger