Pengolahan gaharu

Gaharu diolah menjadi bahan olahan yang berupa minyak, hio, dupa, dan obat gaharu. Proses pembuatannya adalah sebagai berikut.
a.        Minyak Gaharu

     Minyak gaharu dapat diperoleh melalui proses penyulingn dengan system destilasi kukus atau system tekanan uap. Adapun proses penyulingannya adalah sebagai berikut.
a.    Siapkan bahan baku gaharu dalam bentuk serpihan dan bubuk.
b.    Masukkan bahan ke dalam ketel kukus.
c.    Alirkan air ke dalam tetel bahan dan ke ketel pendingin.
d.   Tempatkan bejana pemisah air dengna minyak pada ujung pendingin.
e.    Panaskan air dalam ketel dengan api arang, atau kayu, atau gas.
f.     Setelah satu jam dipanaskan, uap mulai terkondensasi di bejana pemisah air dan minyak, proses penyulingan berakhir setelah 6-8 jam pemanasan.

b.        Hio

     Menurut laporan dari ASGRIN (Asosiasi Gaharu Indonesia), dinyatakan bahwa air limbah penyulingan minyak gaharu masih berguna untuk kosmetik, yaitu sebagai penghalus wajah. Sedangkan ampas penyulingan dapat digunakan untuk bahan pembuat hio atau dupa.

     Hio dibuat dari campuran abu gaharu dan abu lengket dengan perbandingan 1:10, kemudian ditambah dengan aroma lain dan diaduk hingga homogeny. Abu lengket terbuat dari kulit merbau yang diharuskan. Adonan selanjutnya dicetak dalam bermacam-macam bentuk sesuai selera konsumen, seperti lidi, spiral, dan kerucut. Kemudian, hio yang sudah dicetak dijemur hingga kering dan sipa untuk dipasarkan. Bentuk lidi biasanya digunakan untuk peribadatan, sedangkan yang berbentuk kerucut banyak digemari orang-orang Arab Saudi.


c.         Dupa (Setanggi)
    
     Dupa atau setanggi dibuat dari campuran abu gaharu, abu lengket, daun atau kulit buah jeruk nipis, serbuk akar wangi, dan tetes gula merah. Bahan-bahan tersebut dicampur dan dimasak tanpa minyak, kemudian dibiarkan hingga dingin. Selanjutnya dicetak dan dibungkus.
    
     Dalam perdagangan gaharu dikenal dua macam gaharu, yaitu gaharu buaya dan gaharu biasa. Gaharu buaya dihasilkan oleh pohon gaharu jenis Aquilaria sympetalum, Aquilaria malaccensis dan Aquilaria filarial.

     Gaharu buaya biasanya tidak disenangi konsumen karena aromanya kemenyan, seratnya kasar, dan warnanya cokelat kehitaman. Gaharu yang lebih disenangi konsumen adalah gaharu yang aromanya lembut dan seratnya halus.
    
     Dalam perdagangan, gubal dupa dibedakan dalam beberapa kualitas sebagai berikut.
a.    Super.
b.    AB.
c.    BC.
d.   A.
e.    Gumbil gaharu, yaitu gubal gaharu kecil-kecil yang dibedakan dalam kelas tenggelam yag kualitasnya lima kali dan kelas terapung yang kualitasnya lebih rendah.

d.        Obat Gaharu
    
     Penggunaan gaharu untuk obat-obatan di luar negeri. Seperti Cina, Korea, dan Jepang saat ini cukup berkembang. Di Indonesia penggunaan gaharu belum banyak dimanfaatkan untuk pengobatan. Diharapkan, di masa mendatang gaharu memiliki prospek yang baik untuk mendukung industry obat di Indonesia.

Related Product :

 
Support : Digital Areas | MegaCara
Copyright © 2011. Central Kerajinan Gaharu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger