Pembibitan gaharu di polybag

Benih akan tumbuh setelah disemaikan. Pada umur tertentu, benih yang telah tumbuh atau bibit tanaman harus dipindahkan di media yang permanen. Salah satu media permanen yang dapat digunakan adalah polybag. Cara menaman di media polybag adalah sebagai berikut.
      
a)        Membuat Bedengan
(1)   Pilih tanah yang datar, dekat dengan sumber air, dan areanya terbuka.
(2)   Bersihkan tanah dari rumput dan semak belukar.
(3)   Ukur dan buat petak-petak dengan panjang 5-10 m dan lebar 1,5 m.
(4)   Cangkul dan tinggikan tanah hingga menjadi bedengan setinggi ± 20 cm.
(5)   Ratakan permukaan tanahnya.
(6)   Untuk keperluan pembibitan polybag, dibutuhkan arela yang lebih luas agar tiap meter persegi dapat memuat ± 90 polybag.

b)        Membuat Naungan dan Sungkup
       Pembuatan naungan dan sungkup untuk pembibitan agak berbeda dengan pembuatan naungan dan sungkup untuk persemaian. Pembuatan naungan dan sungkup untuk pembibitan adalah  sebagai berikut.

Naungan
(1)   Naungan dibuat dari kerangka bambu atau bahan lain, sedangkan untuk penaungannya digunakan seedingnet 60-75 %. Ukuran lebar dan panjang naungan disesuaikan dengan luas bedengan dan tingginya ± 2 m.
(2)   Sebaiknya dibuat jalan control di dalam naungan untuk memudahkan pekerjaan di pembibitan.

Sungkup
       Sungkup dibuat dengan ukuran panjang 5-10 m (sesuai bedengan), lebar 1,5 m, dan tinggi 1,25-1,50 m. sungkup dengan ukuran tersebut dapat menampung kurang lebih 675-1.350 polybag. Penutup untuk kerangka sungkup terbuat dari plastic transparan.

c)         Mempersiapkan Media

(1)   Bahan media sebaiknya terdiri atas tanah, bahan organic, dan psir dengan perbandingan 1:1:1.
(2)   Bahan dihaluskan terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan cara diaduk hingga merata.
(3)   Masukkan ke dalam polybag ukuran 20 x 20 x 1,25 cm, siram media dengan air sampai jenuh.
(4)   Bahan untuk media harus dalam keadaan kering.

d)        Menanam Bibit di Polybag

(1)   Biji yang sudah berkecambah di persemaian (bibit) satu persatu dipindahkan dan ditanam di media polybag.
(2)   Pemindahan tanaman (penyapihan) dilakukan secara hati-hati, jangan sampai menimbulkan luka pada kecambah.
(3)   Sebelum bibit ditanamkan ke dalam media, buat lubang sedalam 5 cm dan selebar ibu jari untuk memasukkan akar ke dalam media.
(4)   Cabut bibit dari persemaian dengan hati-hati agar tidak melukai akarnya.
(5)   Kumpulkan di tempat yang teduh dan segera bawa ke tempat pembibitan polybag.
(6)   Tanam bibit ke lubang yang telah disiapkan pada media polybag.
(7)   Tekan media di sekitar batang dengan mantap supaya kecambah tertanam dengan sempurna dan tidak mudah goyang.
(8)   Setelah seluruh bibit ditanam, siram dengan air bersih yang dicampur fungisida dengan konsentrasi 5-10 gram/liter air.
(9)   Tutup rapat-rapat bedengan media polybag dengan sungkup plastic transparan.

Persemaian gaharu

Sebelum melakukan persemian, ada beberapa tahapan pendahuluan yang perlu dilakukan, antara lain sebagai berikut.
a.    Membuat Sungkup dan Naungan
Tujuan penyungkupan adalah agar kelembapan udara di dalam bedengan terjaga sehingga bibit tidak cepat kering atau kekurangan air. Selain itu, bibit akan terhindar dari serangan hama dan penyakit dari luar.
Pembuatan naungan dan sungkup dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
Naungan
Buat tiang sebagai kerangka naungan setinggi 2 m dan pasang atap yang terbuat dari  daun kelapa atau seedingnet. Atur agar sinar yang masuk antara 65-70 %.
Sungkup
    (1)    Buat kerangka sungkup dari bambu atau bahan lain dengan ukuran tinggi 1 m dan                                                                                                                                     lebar 1,5 m, seperti pada gambar.
    (2)    Tutup seluruh permukaan kerangka sungkup dengan lembaran plastic tipis yang transparan secara tepat.

b.    Mempersiapkan Media
    Media yang baik untuk media persemian adalah campuran tanah subur, pasir, dan bahan organic atau kompos dengan perbandingan 2:1:1.

    Cara menyiapkan media pembibitan adalah sebagai berikut.
(1)    Ambil tanah subut (top soil), kemudian aduk sehingga cukup halus sebanyak dua bagian.
(2)    Ambil pasir dan campuran pada masa tanah subur sebanyak satu bagian.
(3)    Tambahkan bahan organic, kompos atau pupuk kandang yang sudah jadi sebanyak satu bagian.
(4)    Aduk semua bahan hingga merata dan bila perlu saring atau ayak untuk menghaluskan bongkahan tanah yang terlalu besar.
(5)    Taburkan campuran media tersebut ke atas bedengan dengan ketebalan ± 20 cm.
(6)     Siram media persemian sampai cukup jenuh dan siap untuk menyemikan benih (biji) gaharu.

c.    Mempersiapkan Benih
    Secara fisik, buah yang akan diambil bijinya untuk benih harus benar-benar matang. Buah gaharu berbentuk polong, dalam satu buah terdapat satu atau dua biji, umumnya dalam satu buah terdapat satu biji.
    Cara mempersiapkan benih yang akan disemai adalah sebagai berikut. Benih dicuci dan direndam dalam air selama dua hari, bila perlu diberi larutan fungsida 5-10 gram/liter air untuk menghidarkan jamur.

d.    Menyemaikan Benih di Bedengan
    Sebelum tanah di polybag, benih perlu disemikan terlebih dahulu. Sebagai media untuk menyemikan benih diperlukan bedengan persemian. Tujuan penyemian adalah agar bibit yang ditanam di polybag nantinya dapat tumbuh seragam sehingga tidak perlu banyak penyulaman.
    Tempat bedengan persemian hendaklah dipilih yang dekat dengan bedengan polybag supaya memudahkan pemindahannya ke polybag. Cara mempersiapkan bedengan persemian adalah sebagai berikut.
(1)    Buat petak seluas 1-2 m2, kemudian cangkul tanahnya sedalam 20 cm.
(2)    campur tanah dengan pasir dengan perbandingan satu bagian tanah dan satu bagian pasir.
    Setelah bagian bedengan persemian siap, benih disemaikan di dalam bedengan tersebut. Cara menyemaikan benih di dalam bedengan adalah sebagai berikut.
(1)    Taburkan benih yang sudah diperlukan di atas hamparan bedengan persemaian secara merata, kemudian timbun dengan tanah setebal 2 cm.
(2)    Siram tanah timbunan tersebut dengan air sampai jenuh.
(3) Tutup rapat-rapat bedengan persemaian menggunakan sungkup.
(4)    Pelihara persemaian agar tetap basah dan bebas dari gangguan hama/penyakit.
(5)    Beberapa waktu kemudian benih akan berkecambah. Setelah 1-1,5 bulan di persemaian, bibit siap untuk disapih (dipindahkan) ke polybag.

Pembibitan gaharu dengan benih

Biji diambil dari pohon yang sudah memenuhi syarat, antara lain sudah berbuah selama 5 tahun berturut-turut. Cara pengambilan dapat dilakukan dengan memasang jaring di bawah pohon, kemudian percabangannya digoyang sampai buah/biji yang benar-benar matang berjatuhan dan terkumpul di atas jaring.

Daya kecambah biji tergantung dari tingkat kematangan buah dengan criteria sebagai berikut.
a)         Daya kecambah biji 60%. Setelah ditanam, daya tumbuhnya tinggal 10%. Perlakuan perendaman biji dengan berbagai zat tumbuh kurang berhasil.
b)        Daya kecambah biji 70%. Daya tumbuhnya tinggal 25% setelah ditanam dan pengaruh zat tumbuh tidak nyata.
c)         Daya kecambah biji 90% dengan daya tumbuh mencapai 60% setelah ditanam. Biji yang diperlukan dengan zat tumbuh selama tiga hari memberikan daya tumbuh sedikit lebih tinggi. Biji yang berasal dari buah matang sempurna jauh lebih cepat berkecambah daripada biji yang berasal dari buah yang lebih muda.

Tingkat kematangan buah dapat dibagi menjadi tiga.
a)         Agak matang, tanda-tandanya adalah kulit buah akan pecah bila sudah tiga hari dipanen, biji tampak tetapi tidak terpisah dari daging buah.
b)        Cukup matang, tanda-tandanya adalah kulit buah akan pecah bila sudah 12 jam dipanen, biji tampak terpisah dari daging buah.
c)         Matang sempurna, yaitu buah pecah sendiri di atas pohon dan jatuh dengan kulit buah masih tergantung di pohon.
      
Pemungutan buah lebih baik dilakukan pada biji-biji yang jatuh di tanah karena merupakan biji tua dari buah yang matang sempurna. Biji yang suda terkumpul dicuci dengan air, kemudian direndam selama 2-3 hari dalam air, bila perlu dicampur zat tumbuh dengan konsentrasi 5%. Air pencuci ditambah larutan fungsida 10 gram/liter air untuk mencegah pertumbuhan jamur. Biji yang sudah diambil hanya disimpan selama 10 hari (masa dormansinya pendek).

Biji gaharu bersifat rekalsitran, yaitu tidak tahan terkena sinar matahari atau panas sehingga harus segera ditanam apabila digunakan untuk benih. Apabila akan disimpan, tempat penyimpanan berada pada suhu rendah agar tidak cepat kehilangan kelembapannya. Biji yang kering akan rendah viabilitasnya sehingga rendah pula daya kecambahnya.

Cara menanam pohon gaharu

A. YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENANAM POHON GAHARU:

  • TANAH
Petani tidak perlu bingung mengenai struktur tanah untuk menanam Pohon Gaharu karena pohon ini bersifat tidak memilih tanah (0 - 1200 M dpl),  yang terpenting tanah tidak terendam air seperti sawah atau rawa.
  • POLA TANAM POHON GAHARU
  1. POLA TANAM MONOKULTUR
  • Satu areal lahan perkebunan khusus ditanami Pohon Gaharu
  • Jarak tanam yang dapat digunakan antar pohon boleh 1m x 1m, 2m x 2m, 3m x 3m (menyesuaikan lahan yang ada)
  • Setelah bibit ditanam perlu perawatan ekstra selama 6 - 12 bulan karena pohon ini adalah jenis yang perlu naungan/teduhan (40%-60% cahaya). Hindari cahaya matahari langsung mulai pukul 10.00 s.d 15.00
     2.  POLA TANAM TUMPANG SARI
  • Menanam pohon gaharu di sela-sela tanaman lainnya
  • Penanaman Tumpang Sari bersama dengan pohon sawit, karet, sengon, jabon, mahoni, dapat juga ditanam bersama tanaman pertanian lainnya seperti cabai, buah-buahan, tomat, singkong, jagung, dll
  • Pohon Gaharu dapat pula ditanam disekeliling pekarangan rumah, Masjid, Sekolahan, Perkantoran atau disekeliling kolam ikan dan peternakan
  • Dengan cara ini disela-sela lahan yang kosong dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin sambil menunggu 5-6 tahun untuk panen Gaharu
B. CARA MENANAM POHON GAHARU :
  1. Buat lubang untuk menanam bibit gaharu dengan ukuran 40cm x  40cm x  40cm
      2. Isi   lubang dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 2 sampai 5 kg dicampur dengan tanah
        3. Diamkan selama 2 sampai 4 minggu baru kemudian bibit siap untuk ditanam

Kandungan dan Manfaat Kayu Gaharu

Mungkin sebagian besar dari kita masih belum mengenal kayu gaharu, kayu yang berasl dari poho gaharu dan biasanya tumbuh dengan baik di daerah tropis dengan ketinggian 750 meter dari permukaan laut. Berdasarkan hasil penelitian beberapa lembaga pendidikan, pohon gaharu tumbuh dengan baik apabila tanah yang ditumbuhinya bisa ditumbuhi pohon berkayu keras. Dan saat ini pohon gaharu banyak tumbuh  di daerah Kalimantan, Sumatera dan Papua.

Banyaknya manfaat dan nilai jual yang tinggi membuat kayu gaharu ini menjadi primadona bagi para petani, bahkan tak hanya kayu gaharu saja yang memiliki nilai ekonomis, untuk ukuran daun pun dapat diolah menjadi teh yang sangat berkhasiat.

Kayu Gaharu memiliki  kandungan resin atau damar wangi yang mengeluarkan aroma dengan keharuman yang khas. Dari aroma kayu gaharu  yang sangat popular bahkan sangat disukai oleh masyarakat negara-negara di Timur Tengah, Saudi Arabia, Uni Emirat, Yaman, Oman, daratan Cina, Korea, dan Jepang sehingga dibutuhkan sebagai bahan baku industri parfum,obat-obatan, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis asesoris serta untuk keperluan kegiatan keagamaan, gaharu sudah lama diakrabi bagi pemeluk agama Budha, dan Hindu.

Berikut ini beberapa  manfaat yang bisa diambil dari kayu gaharu
  • kaya gaharu sebagai bahan baku Dupa (makmul) dan Hio dan bisa dijadikan sebagai bahan untuk aroma terapi
  • kaya gaharu sebagai bahan baku obat-obatan dan minyak wangi/parfum
  • kaya gaharu sebagai bahan baku pembuatan minyak gaharu, Sabun, Shampo Yang Harum Semerbak dan berbagai produk kecantikan
  • kaya gaharu sebagai bahan baku kerajinan dan ukiran

Taksonomi Gaharu

Berdasar cirri-cirinya, sistematika gaharu adalah sebagai berikut.
1.    Divisio    :     Spermatophyte
2.    Sub divisio    :    Angiospermae
3.    Class    :    Dicotyledoneae
4.    Sub-class    :    Dialypetalae
5.    Ordo    :    Myrtales
6.    Famili    :    Thymeleaceae

Pohon penghasil gaharu pada umumnya berasal dari family Thymeleaceae, yaitu genus Wikstroemia, Gonyitylus, Gyrinops, Dalbergia, Enkleia, Excoccaria, Aquilaria, dan Aetoxylon. Di Sumatra kebanyakan terdapat Aquilaria sp., tetapi belum ada survey secara mendalam tentang jenis-jenis gaharu, bahkan banyak orang belum mengenal pohon penghasil gaharu ini.

Beberapa pohon penghasil gaharu, antara lain sebagai berikut.

a)    Aquilaria malaccensis
a.    Tinggi pohon mencapai 40 m, batang bergaris tengah 60 cm, permukaan licin, berwarna keputihan kadang beralur, dan kayunya keras.
b.    Bentuk daun lonjong dengan panjang lebih kurang 7 cm, lebar 4 cm, ujungnya meruncing, berwarna abu-abu kehijauan, permukaan daun mengilap, dan tulang daun sekunder berjumlah 12 – 14 pasang.
c.    Bunga terdapat di ujung ranting dan ketiak daun, berbentuk lancip, pnjang kurang lebih 5 mm, berwarna hijau kekuningan atau putih, dan berbau harum.
d.    Buah berbentuk bulat telur atau lonjong, panjang 4 cm, lebar 2,5 cm, dan biji bulat telur tertutup oleh rambut berwarna merah.
e.    Tempat tumbuh pada ketinggian 0 – 700 m diatas permukaan laut.
f.    Daerah penyebaran di Sumatra Utara, Sumatra Selatan, dan Kalimantan.

b)    Aquilaria microcarpa
a.    Tinggi mencapai 40 m dengan garis tengah batang 80 cm.
b.    Tempat tumbuh pada ketinggian 200 m diatas permukaan laut.
c.    Daerah penyebaran di Sumatra.

c)    Aquilaria filaria
a.    Tinggi pohon mencapai 17 m dengan garis tengah batang 50 cm.
b.    Tumbuh di dataran rendah.
c.    Daerah penyebaran di Maluku dan Papua.

d)    Aquilaria beccariana
a.    Tempat tumbuh pada ketinggian 0 – 800 m diatas permukaan laut.
b.    Daerah penyebaran di Kalimantan dan Sumatra Utara.

e)    Wiksroemia polyantha
a.    Pohon berbentuk semak dengan tinggi 7 m, garis tengah 7,5 cm, dan rantingnya berwarna cokelat kemerahan.
b.    Helai daun tipis, kedua permukaan daun licin dan berwarna kecokelatan. Bentuk daun elips, panjang 4 – 12 cm, lebar 4 – 6 cm, tulang daun sekunder 8 – 15 pasang, urat daun tidak jelas, dan panjang tangkai daun 2 – 4 cm.
c.    Bunga terletak diujung ranting, setiap malai terdapat 6 bunga. Kuncup bunga sepanjang 10 mm, warna putih kehijauan, panjang tangkai bunga 1 mm, mahkota bunga lonjong, panjang 8,5 mm, lebar 5,5 mm, warna merah.
d.    Tempat tumbuh pada ketinggian 0 – 2.200 mm diatas permukaan laut.
e.    Daerah penyebaran di seluruh Indonesia.

f)    Wiksroemia tenuiramis
a.    Pohon kecil, tinggi 10 m, warna ranting cokelat, permukaan batang licin dan berwarna cokelat kemerahan.
b.    Helai daun tipis, warna cokelat terang, bentuk elips dengan panjang 4 – 14 cm, lebar 2-6 cm, dan bagian ujungnya meruncing.
c.    Tulang daun sekunder 7-11 pasang dengan panjang tangkai daun 4 cm.
d.    Bunga berada di ujung ranting, panjang 10 mm, warna kuning atau krem, mahkota bunga berbentuk bulat telur dengan panjang 2-3 mm, dan panjang benang sarinya 1,5 cm.
e.    Tempat tumbuh pada ketinggian 0-1.600 m diatas permukaan laut.
f.    Daerah penyebaran di Kalimantan dan Sumatra.
 
Support : Digital Areas | MegaCara
Copyright © 2011. Central Kerajinan Gaharu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger